Timika, fajarpapua.com
Dalam satu minggu terakhir, warga Mimika dihebohkan dengan kebijakan yang dilakukan oleh Disperindag dan Dinas Kesehatan Mimika.
Bukan prestasi yang membuat dua organisasi perangkat daerah (OPD) dilingkup Pemda Mimika menjadi bahan pembicaraan warganet dan netizen, tetapi kebijakan dua instansi ini dinilai merugikan warga.
Seperti ramai diberitakan, pada awal Minggu ini Disperindag Mimika berdasar surat Bupati, berencana melakukan relokasi seluruh PKL dan UKM yang berjualan di pelataran toko dan pinggir jalan ke Pasar Sentral.
Kebijakan ini dirasa sangat merugikan pelaku UKM dan juga warga yang nantinya akan mengeluarkan biaya lebih jika hendak berbelanja.
Bahkan kebijakan pemindahan tersebut ditakutkan akan mengakibatkan banyak PKL yang mempunyai cabang usaha di beberapa titik akan memberhentikan karyawan.
Pemindahan itu akan berdampak pada omset yang pasti turun drastis.
“Saat ini saya mempekerjakan 15 orang di 5 cabang yang tersebar di kota Timika. Bagaimana mungkin ke 5 cabang ini kami satukan di satu tempat. Jika itu benar dilakukan otomatis omset akan menurun drastis dan juga saya terpaksa akan memangkas jumlah pekerja,” beber seorang pedagang, JN.
Kontroversi Kebijakan Rapid Tes Dinkes
Belum redah kegaduhan yang dibuat Disperindag soal relokasi, Dinkes Mimika mengeluarkan kebijakan atau atau aturan soal Rapid Test yang membuat warga meradang.
Bagaimana tidak, kebijakan yang mengharuskan warga yang melakukan perjalanan untuk melakukan Rapid Test di fasilitas kesehatan milik pemerintah.
Selain itu, Dinkes Mimika juga melarang fasilitas kesehatan dan klinik swasta melakukan layanan Rapid Tes, sehingga menimbulkan tanda tanya besar warga.
Hal ini Seperti yang diungkapkan oleh akun Facebook, @hardykuil yang mempertanyakan kebijakan tersebut. "Pak reynold ubra yg terhormat,
Bapak keluarkan surat ini tujuannya apa??
Apakah pelayanan di Puskesmas lebih baik dan terjangkau harganya dibandingkan klinik swasta yg ada d Timika??
Selama PSBB, penghasilan masyarakat menurun drastis, harga rapid di puskesmas Rp 600 ribu pak, harga segitu su bisa beli beras 50 kg satu karung,,,,
jd bapak pertimbangkan lagi suratnya sebelum di terbitkan," tulisnya.
Bahkan warga menduga, terbitnya surat edaran Dinkes Mimika itu karena adanya permainan.
Ini seperti diungkapkan oleh, akun Facebook @mimithusend yang menilai kebijakan itu menyakiti masyarakat. "Permainan yg menyakitkan bagi kita masyarakat biasa…tidak kah kalian mengerti wahai penguasa2 pencuri dan menindas masyrakat biasa lihat lah kita yg mncari nafkah dengan berjulaan keliling,ojek atau yg berhubungan dengan pndapatan harian bukn bulanan,kalian tidak mersa pasang surutnya pndapatan yg kita dapat perhari…kadang lebih kadang kurang kadang pas-pas an belum lagi kebutuhan kita perhari…terus jika anjuran di atas berlaku maka mampuslah kita membayar berdobol kalian para staff, jika seperti itu maka berkaratlah kita di kota timika dan tantangan untuk kita balik ke kota asal sangat menyakitkan," tulisnya yang diakhiri emoji menangis.
Selain itu warga juga menduga Dinkes Mimika kehabisan dana sehingga membuat kebijakan tersebut. "Woiii..ni mau dekat akhir tahun. Dana su menipis jadi mau peras masyarakat.. semoga cepat dapat karma… kasian kami sebagai masyarakat," tulis akun @nonglaki.
Hal ini diamini oleh akun @yohanislefteuw yang menduga dana Covid-19 sudah habis. "Mungkin karn dana covid brp m itu habis entah kemana dan harus ada pertanggung jawaban sehingga pemeriksaan rapid test harus di puskesmas pemerintah utk ada Bu pemasukan lagi..apa bedah dengan puskesmas dan klinik2 suwasta? Apa krn murah atau bagai mana???butuh penjelasan," tulisnya.
Sedangkan akun @fransiskusgare menilai kebijakan Dinkes Mimika dilakukan tergesa-gesa dan tidak melalui kajian. "Kebijakan yg tdk melalui kajian baik dan sifatnya terburu buru, ada apa di balik itu ? Harusnya di soalisasikan dan diberikan waktu kapan mulai penerapannya sehingga masyarakat bisa tau dan tdk dirugikan dlm kebijakan ini," jelasnya.
Hingga berita ini diturunkan fajarpapua.com, diskusi di media sosial soal kebijakan Rapid Test masih berlangsung bahkan sudah mendapat tanggapan lebih dari 150 akun dan mendapat like hampir 200 akun.(mas)

