PANDEMI Covid 19 ikut menyeret perekonomian global, tak terkecuali Mimika. Bahkan ancaman kelaparan akibat resesi ekonomi berkepanjangan tidak lagi hanya sekedar isapan jempol belaka.
Menghadapi era yang tak pasti ini, Kuslan, warga Jln Hasanuddin Timika Papua, punya kiat yang patut diapresiasi. Dia membangun pabrik sagu, mengolah pohon mirip enau itu menjadi bahan makanan.
Ketika berbincang-bincang bersama Fajar Papua di tempat usahanya Selasa (13/10), Kuslan mengatakan pabrik sagu miliknya sudah beroperasi sejak akhir tahun 2018 lalu.
"Tujuan awal mendirikan pabrik ini karena saya sudah tua jadi ilmu saya bisa dipakai oleh putra putri daerah yang ada di sini terutama orang pantai," katanya.
Ia mengaku terinspirasi mengolah sagu menjadi bahan makanan setelah melihat melimpahnya pohon penghasil pangan tersebut.
"Saya lihat pohon sagu dimana-mana sampai tua tidak ada yang olah. Akhirnya saya berusaha mendirikan pabrik. Sebenarnya ini, hanya untuk percontohan. Saya sejujurnya dapat bantuan dari pusat supaya lancar, kurangnya saya tambahin modal sendiri untuk membangun gedung dan mesin," tukasnya.
Dikatakan, jika dikalkulasi secara ekonomi, pohon sagu yang sudah berbunga bisa menghasikan 7 kuintal bahkan 1 ton sagu.
"Manfaatnya banyak, limbah sagu bisa untuk makanan babi. Kulitnya untuk kayu bakar, lalu isinya bisa diolah berbagai jenis makanan. Jadi sebenarnya semua dari pohon sagu itu tidak ada yang terbuang. Untuk mendapatkan sagu yang bersih kita harus memperhatikan air yang digunakan harus bersih juga," ucap Kuslan.
Tidak hanya mengolah sagu, Kuslan bahkan siap mendatangkan tim dari pusat guna mengajarkan bagaimana mengelola sagu yang benar.
"Saya berharap semua masyarakat di sini menanam sagu karena tanah di Timika lebih cocok untuk tanaman sagu dibandingkan tanaman lain. Mari kita galakkan menanam sagu, tebu dari singkong agar masyarakat desa sejahtera," ungkapnya.
Lebih jauh Kuslan mengemukakan,
sagu yang diproduksinya sudah banyak membantu kebutuhan masyarakat yang ada di Kabupaten Mimika bahkan dari luar Timika.
"Kami biasa kirim ke pedalaman kadang 100 sampai 200 karung. Rata-rata mereka yang di pedalaman lebih senang mengkonsumsi sagu dibanding beras. Mereka bilang konsumsi sagu itu lebih awet, dibanding mengkonsumsi beras cepat lapar," tukas Kuslan yang mengaku mempekerjakan 15 orang karyawan itu.
"Volume produksi kami per hari satu reat sekitar 70. Kami berusaha kedepan produksinya terus meningkat sekitar 200 per hari. Permintaan sagu dimasa pandemi seperti sekarang meningkat karena banyak warga dari pedalaman dan pesisir memilih sagu sebagai bahan makanan pokok," terangnya.
Kuslan berharap pemerintah ikut campur tangan dalam hal ini memberikan pelatihan khusus kepada para petani putra daerah agar mampu mengelola sagu yang ada di Kabupaten Mimika.
"Saya siap mendampingi, membantu membina hingga sukses. Sagu bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan seperti cendol es krim dan makanan lain. Saya sengaja buat lokasinya luas sehingga ada masyarakat yang ingin dilatih oleh pemerintah bisa tampung di sini," bebernya.
Ia mengaku, mengelola sagu paling mudah, tidak membutuhkan keahlian khusus
"Rata-rata produksi saya sampai saat ini kurang lebih 25 ton/bulan. Kalau mau dijumlahkan secara keseluruhan produksi saya sudah mencapai 50 kontainer. Usaha dimulai sejak akhir tahun 2018 sampai saat ini. Khusus untuk bahan baku sagu di Timika sangat melimpah dan mudah didapat," katanya.(Junaidi Boiratan)

