Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Oknum Wanita Ngaku Dokter IGD RSUD Mimika Lakukan Order Fiktif, Puluhan Ojek Tertipu

RSUD Mimika
RSUD MimikaFoto / MIMIKA
fajar Papua3 menit baca0 kali dibaca

Timika, fajarpapua.com
Saat ini banyak pihak tak bertanggung jawab yang menyalahgunakan fitur pemesanan makanan ataupun barang yang disediakan oleh perusahaan ojek online, maupun kurir yang beroperasi di Timika.

Dalam dua hari terakhir setidaknya ada puluhan ojek dan kurir yang menjadi korban.

Salah satu korban, Rosalina Iriani dalam unggahannya di Facebook, Rabu (16/9) mengaku menjadi korban order fiktif dari oknum yang menggunakan identitas Dr. Dewi Kartika yang mengaku bertugas di IGD RSUD Mimika.

Dalam unggahannya, korban mengingatkan bagi penjual online untuk berhati-hati saat menerima order dari oknum tersebut.

Selain itu Dewi mengaku sebagai korban orderan fiktif yang kedelapan dari Dokter Dewi Kartika.

"Hari ini sy telah menjadi korban yang kedelapan, dia meminta saya mengantarkan 7 porsi tekwan dan jasa titip pembelian pulsa Rp 100 ribu," ujar korban dalam unggahannya.

Dia mengatakan melayani pesanan tersebut karena oknum tersebut mengaku bekerja di RSUD Mimika.

"Namun setelah kurir saya cek sampai di Humas RSUD Mimika, ternyata tidak ada dokter dengan identitas itu. Buat yang lain harap lebih waspada, agar tidak ada korban lagi," lanjutnya.

CEO PT MiJek Transport Indo, Idris Manika mengungkapkan, praktek order fiktif tersebut dapat menimpa siapa saja para pelaku penjualan online terutama yang menggunakan media sosial.

"Karena banyak celah yang bisa dimanfaatkan oleh para pelaku untuk beraksi. Salah satunya soal tidak adanya verifikasi nomor telepon maupun akun media sosial milik para pelaku oleh para penjual online," jelasnya.

Biasanya, lanjut ayah dua anak ini, para pelaku menggunakan identitas yang membuat orang merasa percaya.

"Contohnya dalam kasus yang lagi viral saat ini, pelaku menggunakan identitas dokter dan bertugas di RSUD Mimika. Dengan identitas ini jelas akan meyakinkan korban dan lengah untuk melakukan croscek kebenaran identitas pelaku," jelasnya.

Dikatakan juga, untuk order fiktif di Mijek dalam setahun terakhir menurutnya baru terjadi dua kali.

"Namun tidak sampai merugikan driver, karena MiJek yang berbasis aplikasi ini jauh lebih aman dibanding dengan jualan di media sosial. Perlu diketahui, setiap pengguna aplikasi MiJek sudah terverifikasi sehingga identitas pemesan bisa diketahui jika terjadi tindakan diluar ketentuan," jelasnya.

Sementara Direktur PT MiJek Transport Indo, Mustofa menegaskan, pihaknya memang sangat konsen dalam hal keamanan transaksi.

"Artinya, sebagai operator aplikasi MiJek, kami menjamin keamanan baik untuk mitra merchant yang bergabung di lapak MiJek maupun kepada mitra driver," jelasnya.

Selain itu, jika driver atau mitra merchant menemukan transaksi yang mencurigakan atau order fiktif, perusahaan akan melakukan tracking untuk melacak pelaku.

"Kami yakin bisa meminimalisir order fiktif di aplikasi MiJek karena seluruh pengguna aplikasi terverifikasi," tuturnya.

Terkait trik untuk menghindari kerugian order fiktif, Mustofa mengungkapkan, penjual online melalui media sosial hendaknya melakukan verifikasi berulang dan menolak setiap pemesanan pulsa telepon.

"Untuk makanan mungkin kerugian tidak bisa dihindari jika terlanjur dibeli atau dibuat, namun untuk pemesanan pulsa sebaiknya jangan dilayani," jelasnya.

Untuk mitra driver MiJek sendiri lanjutnya, sejak awal sudah diingatkan untuk tidak melayani konsumen jika menitip pulsa.(mas)