Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Dipertanyakan, APBD Mimika Triliunan, Tapi Kondisi Mama Kamoro Masih Seperti ini...

Marianus Maknaipeku
Marianus MaknaipekuFoto / MIMIKA
fajar Papua2 menit baca0 kali dibaca

Timika, fajarpapua.com

Mama-mama berjibaku di pinggir jalan. Mereka berjejer menjajahkan ikan, kerang, udang dan karaka. Tidak banyak warga yang berminat, hanya lalu lalang, ada yang sekedar melihat-lihat, ada juga yang membeli.

Sesekali muncul pick up membawa boks datang merapat. Satu dua mobil saja, setelah boks penuh mereka balik Timika.

Itulah pemandangan Minggu (26/7) di "Pelabuhan Sampan" Pomako Timika Papua. Mama-mama Kamoro, pelaut tradisional suku asli Mimika, menafkahi keluarga dengan berjualan hasil tangkapan sungai itu.

Mereka mengaku kesulitan dalam menjajahkan hasil tangkapan, sebab selama musim Covid 19, hanya sedikit warga yang menyambangi tempat itu.

"Belum laku, kemarin laku 50 ribu. Mudah-mudahan sebentar ada yang beli," ungkap Tina, seorang penjual.

Bukan hanya dia, beberapa mama yang lain juga mengeluhkan hal yang sama. Pendapatan mereka turun drastis akibat wabah covid dan susahnya tempat pemasaran.

"Ini tempat pak Marianus Maknaipeku yang rintis. Dari pemerintah belum ada perhatian sama sekali," ungkap seorang mama lagi.

Marianus Maknaipeku, tokoh Lemasko yang dikonfirmasi Fajar Papua di pasar dadakan tersebut mengaku prihatin dengan kondisi mama-mama Kamoro.

"Sedih, mama ini mereka jual di tempat yang tidak layak. Perhatian pemerintah tidak ada sama sekali, tempat ini mujur saya yang rintis" tuturnya.

Dikemukakan, dirinya pernah mengusulkan penimbunan di areal pinggir dekat lokasi pasar dadakan tersebut. Namun usulan itu ditolak, akibatnya warga berjualan di lorong jalan yang sempit yang membuat mereka harus berdesak-desakan antara penjual, pembeli dan mobil.

"Tiap tahun APBD Mimika triliunan tapi kondisi mama-mama Kamoro masih seperti ini," ujarnya.

Dia berharap Pemda Mimika memberi perhatian lebih pada warga asli Mimika itu. Sebab sebagian besar warga Kamoro menyandarkan hidupnya pada hasil tangkapan.

"Koperasi belum ada, wadah untuk menampung ikan tidak ada. Makanya setiap ikan yang tidak laku saya tampung, besok paginya mereka boleh ambil dan jualan lagi," ungkap mantan anggota DPRD Mimika itu.(tim)