Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Orang Tua Murid Mengeluh Biaya Internet Mahal, Ini Solusi yang Ditawarkan Kepada Pemda Mimika

Biaya internet mahal, ExpoNet menggratiskan bagi siswa.
Biaya internet mahal, ExpoNet menggratiskan bagi siswa.Foto / MIMIKA
fajar Papua5 menit baca0 kali dibaca

Timika, fajarpapua.com

Sudah jatuh tertimpah tangga pula. Tidak hanya terjepit dengan keadaan dimana penghasilan menurun lantaran pandemi Covid 19, para orang tua murid di Kabupaten Mimika juga harus ekstra keras mencari uang untuk membiayai pengeluaran ditahun mata pelajaran baru yakni biaya pendidikan dan biaya internet.

Orang tua murid, Rosa R, kepada Fajar Papua, Sabtu, meminta Pemda Mimika untuk memikirkan beban yang kini ditanggung orang tua murid.

"Kami bayar uang sekolah, sekarang kami harus beli HP dan paket internet untuk anak. Saya rasa susah sekali, enam hari pulsa 100 ribu habis," ujar ibu dua anak yang berdomisili di Nawaripi ini.

Ia mengaku tidak bisa berbuat apa-apa sebab anaknya harus mengikuti kegiatan sekolah.

Keluhan yang sama disampaikan orang tua murid lainnya, Mustofa. Ia meminta anggaran covid 19 di Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika yang kabarnya mencapai Rp 10 miliar digunakan untuk meringankan beban orang tua.

"Pulsa internet mahal, apalagi kalau di rumah ada tiga empat anak, orang tua pasti tidak mampu. Dana besar itu untuk membantu orang tua murid, karena anak sekarang sekolah dari rumah," ungkap ayah dua anak itu.

Beratnya beban orang tua dimasa pandemi ini diceritakan dalam kasus dibawah ini.

"Tadi aku ke warnet, mau cetak sticker. Ada anak laki-laki usia 12 tahun, (usia anak SMP) bawa beberapa lembar kertas buku tulis yang disobek. Isinya tulisan-tulisan seperti draft tugas sekolah.

Dia tanya sama operator warnet, kalau ngetik draft ini dan ngeprint, berapa harganya. Kata si operator, biayanya sekitar Rp 24 ribu. Biaya ngetik dan biaya ngeprint.

Begitu tahu biayanya Rp 24 ribu.. anak itu diam… melongo. Di tangannya aku lihat, dia hanya memegang uang Rp 5 ribuan.

Terlihat di wajahnya antara bingung dan tidak tahu harus bagaimana. Di satu sisi, tugas dari sekolah harus dikerjakan, di satu sisi, tidak ada uang untuk ngeprint.

Anak itu pulang, dan janji akan kembali lagi. Tapi kertas tugasnya ditinggal.

Aku minta kertas-kertas tersebut, dan aku baca. Ternyata tugas dari sekolahnya, membuat laporan kegiatan belajar di rumah selama pandemi berlagsung.

Aku baca hingga selesai draft tersebut. Tata bahasanya bagus dan inti pokoknya juga tepat. Dia sampaikan beberapa kendala selama belajar di rumah. HP hanya ada 1 milik ayahnya, sementara yang harus belajar menggunakan HP ada tiga orang. (Dia dan dua adiknya). Kebayang kan..?

Aku bilang sama si operator, tolong diketikkin dan diprint, nanti saya yang bayar. Tidak lama kemudian, si anak tadi datang, dan bilang sama si operator, meminta kembali draft yang tadi.

Si operator bilang bahwa tugasnya sedang diketik dan akan diprint. Anak itu bilang, tapi saya tidak ada uangnya… Dan si operator bilang, sudah ada yang bayarin.

(Aku tadi sudah bilang ke operatornya, bahwa anak tersebut tidak usah tahu siapa yang bayar)

Di sini, aku bukan mau riya pamer bayarin, tapi.. kebayang nggak… berapa banyak anak yang mengalami hal seperti ini?

Di saat orang tuanya kesulitan menutupi biaya hidup, ditambah lagi beban pulsa paket, beban ngetik tugas, ngeprint tugas..?

Kepada guru-guru, coba dipertimbangkan lagi. Memberi tugas memang harus, tapi disituasi seperti sekarang ini ? Kasihan anak-anak tersebut, mereka takut kalau tidak mengerjakan tugas, tapi untuk mengerjakan tugas itu butuh biaya yang tidak sedikit.

Solusi yang Ditawarkan

Izzy Manika, Ceo Mijek sekaligus pemilik Warnet Expo Net di Jalan Pendidikan beberapa hari ini menggratiskan biaya internet dan print di warnetnya untuk anak-anak yang mengerjakan tugas.

Dia menawarkan kepada guru dan Pemda Mimika agar orang tua murid bisa keluar dari situasi ini. Berikut solusinya.

"Menginstall dan menggunakan VPN saat terhubung dengan jaringan, pada saat melakukan streaming via zoom atau aplikasi meeting lain perlu vpn agar kuota yang digunakan tidak boros atau bisa dipangkas sekitar 30-40 persen.

Teknik tunneling seperti ini memang ada satu sisi kurang baiknya, karena akan membuka blokir terhadap situs-situs yang diblok oleh Kominfo.

Tetapi sekali lagi yang kita lihat di sini adalah efisiensi penggunaan kuota dari user atau siswa di rumah.

Berikut, membuat RT/RW net, yah ini adalah solusi tercepat dan mudah dibuat. Menggunakan metode pemancar wirelles dengan cakupan yang luas di suatu daerah agar daerah tersebut dapat menikmati internet, tinggal nanti disetting jam agar bisa mengakses internet dan lain-lain.

Untuk Pemerintah Daerah mungkin bisa memberikan subsidi kuota /siswa, besaran silahkan bisa ditentukan agar meringankan biaya orang tua untuk membeli kuota internet. Ataupun bisa dengan membangun tower centre di beberapa tempat yang coverage / cakupan yang luas.

Untuk Pemerintah Pusat bisa dengan subsidi pada pembelian kuota internet ataupun membuka akses dari wifi id untuk siswa yang akan belajar online melalui wifi corner.

Terakhir, saran untuk ibu dan bapak guru agar meniadakan sistem print tugas, karena ini kurang tepat. Peristiwa yang terjadi di lapangan adalah siswa hanya menyuruh cari artikel kepada orang lain atau operator warnet jika sedang diwarnet kemudian diprint.

Selanjutnya operator warnet biasanya hanya mengganti cover dari setiap siswa tersebut untuk diprint lagi kepada siswa yang lain. Solusinya, menggunakan google form atau aplikasi lain yang ketika mengerjakan tugas siswa tidak perlu melakukan print out dan hasil bisa langsung diterima oleh guru.(ana)