Flores, fajarpapua.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 11.704 kali gempa bumi susulan (aftershocks) telah mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Kamis (3/9/2026).
Rangkaian gempa ini terjadi pasca-gempa utama bermagnitudo (M) 7,7 yang melanda kawasan tersebut pada 15 Agustus 2026 lalu.
Menurut data BMKG, tren aktivitas gempa susulan ini fluktuatif namun cenderung meluruh. Puncak aktivitas gempa susulan tertinggi terjadi pada 20 Agustus 2026 dengan jumlah mencapai 862 kejadian dalam satu hari.
"Hingga hari ini pukul 12.00 WITA, total gempa susulan yang terdeteksi mencapai 11.704 kali. Magnitudo terbesar tercatat M 6,2, sementara yang terkecil berada di kisaran M 0,9 hingga M 1,0," ujar perwakilan BMKG dalam keterangan resminya, Kamis (3/9).
Sebagian besar episenter atau pusat gempa susulan ini berada di wilayah laut utara Pulau Flores. Meskipun kekuatannya didominasi oleh gempa kecil yang tidak dirasakan, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk waspada, terutama terhadap potensi kerusakan pada bangunan yang strukturnya sudah melemah akibat gempa utama.
Masyarakat diimbau untuk menghindari bangunan yang retak atau rusak, serta selalu memperbarui informasi dari kanal resmi BMKG guna menghindari isu atau hoaks yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
# Mulai Perbaiki Bangunan Gereja yang Rusak
Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melakukan penanganan terhadap rumah ibadah, yang terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Kalau bangunan kita kerjakan ulang, di manapun kearifan lokal harus dijaga. Jadi, harus koordinasi dengan yang menggunakan atau mengelola bangunan tersebut," kata Menteri PU Dody Hanggodo, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Kementerian PU menindaklanjuti hasil pemeriksaan kondisi bangunan rumah ibadah Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus di Dampek, Kabupaten Manggarai Timur serta Masjid Nurul Huda Reo di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Penanganan dilakukan berdasarkan tingkat kerusakan masing-masing bangunan, dengan tetap memperhatikan keselamatan, kebutuhan pengguna, serta kearifan lokal masyarakat setempat.
Pendekatan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Dody saat meninjau Gereja Santo Petrus dan Paulus Dampek serta Masjid Nurul Huda Reo.
Berdasarkan hasil identifikasi, terdapat tiga bangunan Gereja Santo Petrus dan Paulus Dampek yang diperiksa, yakni gedung peribadatan gereja, gedung aula gereja, dan rumah pastoran. Hasil pemeriksaan menunjukkan gedung peribadatan gereja dan gedung aula mengalami kerusakan struktural dan dinyatakan tidak aman untuk digunakan. Sementara itu, rumah pastoran tidak mengalami kerusakan dan dinyatakan aman untuk digunakan kembali.
Sebagai tindak lanjut, jemaat gereja melakukan pembongkaran atau Cear Di'a serta pembersihan bangunan gereja dan aula. Pada kesempatan tersebut juga dilaksanakan proses adat sebagai bagian dari upaya masyarakat untuk menjaga nilai-nilai adat dan kearifan lokal yang melekat dalam kehidupan jemaat di Dampek.
Pihak gereja juga melakukan pengamanan aset-aset gereja sebelum pembongkaran bagian atap dengan melibatkan sekitar 30 jemaat, dibantu sekitar 20 personel Polda NTT untuk mendukung kelancaran dan keamanan proses di lapangan.
Selanjutnya, Kementerian PU melalui Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) NTT menyiapkan penanganan Gereja Santo Petrus dan Paulus melalui pendekatan rancang bangun, dengan terlebih dahulu melakukan kajian terhadap kondisi struktur bangunan eksisting.
Penanganan tersebut juga akan melibatkan pengurus gereja dalam proses perencanaan sehingga bangunan yang nantinya dibangun kembali tetap sesuai dengan kebutuhan jemaat dan karakter lokal.
Sementara itu, hasil pemeriksaan terhadap Masjid Nurul Huda Reo menunjukkan struktur utama bangunan secara umum masih berdiri tegak.
Namun, ditemukan sejumlah kerusakan pada elemen struktur dan nonstruktur.
Hasil identifikasi menunjukkan kerusakan pada kolom level IV sebesar 4,67 persen, kolom level III 3,125 persen, kerusakan plafon 60 persen, serta kerusakan dinding 10 persen.
Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, gedung utama Masjid Nurul Huda Reo dikategorikan rusak sedang, sehingga penanganan yang direkomendasikan meliputi pembongkaran seluruh plafon, pembongkaran pada bagian dinding yang mengalami retak lebih dari 6 milimeter, serta perkuatan struktur bangunan.
Kemudian, untuk menara Masjid Nurul Huda Reo berdasarkan hasil pemeriksaan mengalami kerusakan berat dan sebagian telah runtuh, sehingga direkomendasikan untuk dilakukan pembongkaran total.
Sama seperti Gereja Santo Petrus dan Paulus, penanganan Masjid Nurul Huda Reo juga berdasarkan hasil asesmen dan tingkat kerusakannya, sehingga langkah rehabilitasi maupun pembangunan kembali dapat dilakukan secara tepat dan aman.(red/ant)










