Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Ingin Jadi Perawat Malah Putus Sekolah, Pelajar SMA di Kokonao Diajak Hindari Pernikahan Usia Dini

image
imageFoto / MIMIKA
Redaksi3 menit baca1 kali dibaca

Timika, fajarpapua.com – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Mimika melalui Pokja I menggelar sosialisasi pencegahan perkawinan usia dini bagi pelajar SMAN 3 Kokonao, Distrik Mimika Barat, Senin (19/5/2026).

Sosialisasi menyasar pelajar SMA karena dinilai sebagai fase penting dalam menentukan masa depan, baik melanjutkan pendidikan, bekerja maupun menikah.

Ketua Pokja I Ny. Besse Erni Yakib didampingi penyuluh Ny. Anna Balla menyampaikan, sosialisasi tersebut merupakan program nasional dari PKK pusat untuk mencegah dampak negatif perkawinan usia dini.

“Hal ini sangat penting untuk pengembangan generasi masa depan. Sudah ada data dari aspek kesehatan dimana anak belum siap untuk menikah karena dapat menyebabkan masalah gizi bagi ibu maupun anak,” ujarnya.

Ia menuturkan, perkawinan usia dini juga membuat pasangan belum siap secara ekonomi sehingga menambah beban dan tanggung jawab dalam rumah tangga.

“Yang tadinya ingin jadi perawat, polisi dan lain sebagainya karena kawin usia dini akhirnya masa depan putus,” tuturnya.

Menurutnya, pergaulan remaja yang tidak terkontrol hingga terjadi kekerasan seksual dalam pacaran juga menjadi salah satu penyebab kehamilan di usia sekolah.

“Untuk mencegah hanya lewat pendidikan agama dan moral. Masa SMA adalah tahap menuju dewasa dan tingkat pilihan hidup. Setelah SMA mau kemana, mau kerja, kuliah atau kawin. Harus belajar dan sekolah supaya semakin banyak pengetahuan yang didapat,” bebernya.

Ia juga mengingatkan pelajar Kokonao agar termotivasi mengikuti jejak tokoh-tokoh asal wilayah tersebut yang berhasil meniti karier, diantaranya Bupati Mimika Johannes Rettob dan Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong.

“Diharapkan pelajar disini dibantu untuk meraih cita-cita. PKK dari pusat sampai Dasa Wisma sehingga diharapkan gerakan bersama ini akan membawa perubahan,” katanya.

Sementara itu guru SMAN 3 Kokonao Philipbertus Watmulawar mewakili kepala sekolah mengapresiasi sosialisasi tersebut karena dinilai memberi edukasi penting bagi pelajar.

“Kami ucapkan banyak terimakasih atas kunjungan tim PKK semoga kedepan berlanjut terus. Karena memang pencegahan perkawinan usia dini ini penting,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, jumlah pelajar kelas X dan XI di sekolah tersebut sebanyak 73 orang. Namun setiap tahun hanya sebagian kecil lulusan yang melanjutkan pendidikan, sementara lainnya memilih menikah. “Ada yang kawin duluan dan sudah tinggal dengan suaminya jadi harus keluar sekolah,” ungkapnya.

Menurutnya, kuatnya pengaruh tradisi dan budaya di wilayah tersebut membuat peran orang tua sangat dibutuhkan dalam pengawasan anak.

“Ini terjadi tidak hanya di SMA bisa juga di SD sehingga pencegahan ini perlu. Anak-anak ini perlu diberi pembinaan terus,” tandasnya.

Dalam kegiatan tersebut, tim juga menyerahkan bingkisan kepada pelajar berupa odol, sikat gigi, deodoran, sampo, sabun, buku serta pembalut khusus pelajar perempuan.(red)