Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

20 Tahun DOB Moni Jaya Diperjuangkan, Warga Bubarkan Aksi Penolakan di Pasar Karang Nabire

image
imageFoto / PAPUA
Redaksi2 menit baca0 kali dibaca

Nabire, fajarpapua.com – Masyarakat dari Suku Moni dan Suku Mee yang berasal dari lima distrik calon Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Moni Jaya menegaskan dukungan penuh terhadap rencana pemekaran wilayah tersebut dalam aksi yang berlangsung di Pasar Karang, Nabire, Senin (18/5/).

Massa pendukung DOB memadati kawasan Pasar Karang sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan pembentukan Kabupaten Moni Jaya yang telah diperjuangkan selama puluhan tahun.

Koordinator massa pendukung DOB Moni Jaya, Melkias Zonggonau, mengatakan perjuangan pembentukan daerah otonomi baru itu telah berjalan kurang lebih 20 tahun dan mengorbankan banyak tenaga, pikiran, hingga materi.

“DOB Moni Jaya ini sudah diperjuangkan sejak lama. Banyak harta, tenaga, bahkan pejuang yang telah meninggal dunia demi perjuangan ini. Karena itu, siapapun tidak bisa menghalangi pemekaran tersebut,” ujar Melkias di hadapan massa aksi.

Pernyataan serupa disampaikan Tokoh Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Suku Moni Kabupaten Nabire, Aten Kobogau.

Ia menegaskan perjuangan DOB Moni Jaya telah dimulai jauh sebelum generasi muda saat ini lahir.

“Jangan mengatasnamakan mahasiswa atau pelajar untuk menghentikan perjuangan ini. Sejak kalian belum lahir, perjuangan DOB ini sudah berjalan lama,” tegasnya.

Massa pendukung DOB diketahui datang dari sejumlah wilayah di Nabire seperti Wadio, Gerbang Sadu, Jayanti, Irigasi, BMW, dan beberapa titik lainnya.

Kehadiran mereka membuat aksi penolakan terhadap calon DOB Moni Jaya yang digelar kelompok mahasiswa akhirnya dibubarkan.

Dalam peristiwa tersebut, sejumlah spanduk penolakan dirusak dan perlengkapan aksi diamankan oleh massa pendukung DOB.

Situasi di lokasi sempat memanas, namun aparat keamanan berhasil menjaga kondisi tetap terkendali hingga massa penolak DOB membubarkan diri secara bertahap.

Tokoh intelektual Papua, Kristianus Zonggonau, mengapresiasi masyarakat Suku Moni dan Mee serta aparat keamanan yang dinilai mampu menjaga situasi tetap aman dan kondusif selama aksi berlangsung.

“Kami berterima kasih kepada seluruh masyarakat dan aparat keamanan yang sudah mengawal kegiatan ini dengan baik,” katanya.

Di sisi lain, Solidaritas Mahasiswa Se-Indonesia (SMI-KP) asal Paniai Kota Studi Nabire sebelumnya menggelar aksi mimbar bebas di Pasar Karang Nabire pada hari yang sama.

Aksi tersebut menyuarakan penolakan terhadap rencana pemekaran sejumlah calon DOB di wilayah Paniai seperti Kabupaten Deiyai Jaya, Paniai Barat, dan Wedauma.

Dalam orasinya, mahasiswa menilai pemekaran wilayah berpotensi mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat Papua melalui masuknya investasi besar, arus transmigrasi, militerisasi, hingga kerusakan lingkungan. (red)