Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Ribuan Umat Katolik Mimika Ikuti Misa Minggu Palma, Pastor Paroki St Sefanus Sempan Ajak Umat Jadi Pembawa Damai

image
imageFoto / MIMIKA
Redaksi3 menit baca0 kali dibaca

Timika, fajarpapua.com – Ribuan umat Katolik Mimika di wilayah Keuskupan Timika menghadiri Misa Minggu Palma, Minggu (29/3).

Seperti halnya di Paroki St Sefanus Sempan, perayaan diawali dengan doa di depan gereja, dilanjutkan perarakan masuk yang dimeriahkan lagu Yerusalem Lihatlah Rajamu, sambil umat melambaikan daun palma.

Dalam perayaan tersebut, dibacakan kisah sengsara Yesus Kristus yang menjadi bagian penting memasuki Pekan Suci.

Misa dipimpin Pastor Paroki Sempan Gabriel Ngga OFM. Dalam kotbahnya, Pastor Gaby mengajak umat untuk merenungkan makna Minggu Palma yang menghadirkan dua suasana kontras, yakni sorak “Hosana” dan seruan “Salibkan Dia”.

“Dalam kisah sengsara, kita melihat Yesus tetap setia pada misi-Nya meskipun dikhianati dan ditinggalkan. Ia tidak membalas kekerasan dengan kekerasan,” ujarnya.

Ia mengutip pesan Injil saat Yesus meminta murid-Nya memasukkan pedang ke dalam sarungnya, sebagai ajakan untuk menghentikan kekerasan.

“Pesan ini sangat penting bagi kita di Papua. Kita rindu damai, tetapi sering terjebak dalam konflik dan kesalahpahaman. Mengikuti Kristus berarti berani memutus rantai kekerasan,” tuturnya.

Ia mengajak umat untuk mengedepankan dialog, pengampunan, dan rekonsiliasi sebagai jalan menuju kedamaian.

“Damai hanya terwujud jika kita punya keberanian untuk tetap mengasihi ditengah luka,” katanya.

Dalam refleksinya, ia juga menyinggung penderitaan Yesus yang menyatu dengan penderitaan manusia, terutama mereka yang merasa ditinggalkan oleh keadaan.

“Yesus tidak meninggalkan kita. Ia berjalan bersama kita, hadir dalam setiap air mata dan perjuangan. Ia memanggul salib bersama kita,” bebernya.

Ia menambahkan, iman tidak menjanjikan hilangnya penderitaan secara instan, namun menghadirkan kekuatan Tuhan dalam setiap perjuangan hidup.

Menutup kotbahnya, ia mengingatkan makna daun palma sebagai simbol kemenangan iman atas keputusasaan.

“Jadilah pembawa damai, peduli pada sesama yang memanggul salib kehidupan, dan tetap setia pada kebenaran,” pungkasnya.

Ia berharap semangat Minggu Palma dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari demi terciptanya Papua yang damai, bermartabat, dan diberkati Tuhan.

Perayaan Minggu Palma tersebut sekaligus menandai dimulainya Pekan Suci dalam tradisi Gereja Katolik, yakni rangkaian hari-hari suci yang mengajak umat mengenang sengsara, wafat hingga kebangkitan Yesus Kristus.

Pekan Suci diawali dengan Kamis Putih yang memperingati perjamuan terakhir Yesus Kristus bersama para murid-Nya. Dalam peristiwa ini, Yesus menunjukkan teladan kerendahan hati dengan membasuh kaki para murid serta menetapkan Ekaristi sebagai perayaan iman umat Kristiani.

Selanjutnya Jumat Agung menjadi hari paling hening, di mana umat mengenang wafatnya Yesus Kristus di kayu salib. Ibadat dilaksanakan dalam suasana duka, tanpa perayaan misa, dan diisi dengan penghormatan terhadap salib sebagai lambang pengorbanan.

Memasuki Sabtu Suci, umat diajak untuk berdiam diri dan merenungkan saat Yesus Kristus berada dalam makam. Pada malam harinya dilaksanakan Vigili Paskah yang ditandai dengan upacara cahaya sebagai simbol kemenangan terang atas kegelapan.

Rangkaian Pekan Suci kemudian mencapai puncaknya pada Minggu Paskah, yakni perayaan kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Peristiwa ini menjadi dasar iman Kristiani yang membawa harapan akan kehidupan baru dan kemenangan atas dosa serta maut.(fan)