Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Patah Panah Menandai Berakhirnya Konflik Kwamki Narama, Bupati Mimika : Tidak Ada Lagi Perang

98193364-a58b-4084-a72f-a93f33b2c57a
98193364-a58b-4084-a72f-a93f33b2c57aFoto / MIMIKA
Redaksi FP1 menit baca1 kali dibaca

Timika, fajarpapua.com – Bupati Mimika Johannes Rettob didampingi Wakil Bupati Emanuel Kemong, Wakil Bupati Puncak Naftali Awakal serta Forkopimda mengikuti ritual patah panah sebagai simbol perdamaian konflik keluarga di Distrik Kwamki Narama, Senin (12/1).

Prosesi patah panah diawali dengan perdamaian secara adat oleh kedua belah pihak. Ritual tersebut ditandai dengan panah babi yang dilakukan masing-masing pihak ditengah wilayah yang sebelumnya menjadi area konflik kedua kubu.

Sebelum melakukan patah panah Bupati Rettob mengatakan, prosesi ini menjadi tanda berakhirnya konflik di Kwamki Narama dan membawa pesan damai bagi Tanah Papua.

“Saya melakukan patah panah ini menandai tidak ada lagi perang atau konflik di Kwamki Narama dan Tanah Papua,” tegas Bupati.

Usai perdamaian adat, belah kayu, dan patah panah, kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara serta surat pernyataan oleh Pemda Mimika, Pemda Puncak, DPRK, aparat keamanan, intelektual, tokoh masyarakat, serta kedua belah pihak Newegalen dan Dang.

Aparat kepolisian yang dipimpin Kapolres dan Brimob yang dipimpin Danyon Brimob Detasemen B Papua turun mengamankan lokasi prosesi perdamaian. Tampak belasan warga yang ditahan di Rutan Polres Mimika ikut menyaksikan prosesi tersebut.(ron)