Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Unjuk Rasa Ribuan Massa, Ancam Usir ‘Pengganggu’ Bupati Romanus Mbaraka

Forum Keadilan untuk Tanah Animha Kabupaten Merauke mendatangi rumah kediaman Notaris Aloysius Dumatubun di Jalan Sumatera, Merauke
Forum Keadilan untuk Tanah Animha Kabupaten Merauke mendatangi rumah kediaman Notaris Aloysius Dumatubun di Jalan Sumatera, MeraukeFoto / pinpost
fajar Papua5 menit baca0 kali dibaca

Merauke, fajarpapua.com – Ribuan massa pendukung Bupati Merauke, Romanus Mbaraka yang menamakan diri Forum Keadilan untuk Tanah Animha Kabupaten Merauke mendatangi rumah kediaman Notaris Aloysius Dumatubun di Jalan Sumatera, Merauke dan menggelar unjuk rasa di depan halaman rumah sekitar pukul 10.30 WIT, Jumat (16/4). Aksi unjuk rasa ini merupakan balasan atas aksi sebelumnya, dimana ada pihak mempersoalkan ijazah dan gelar Bupati Merauke, Drs. Romanus Mbaraka, MT.

Sebelum ke kediaman Aloysius Dumatubun, mereka juga mendatangi kediaman Paskalis Imadawa yang juga menjadi aktor aksi unjuk rasa sebelumnya, yang telah mempersoalkan ijazah dan gelar Bupati Merauke, Drs Romanus Mbaraka, MT. Setelah berorasi di Jalan Sumatera, massa kemudian menuju Polres Merauke dan Kantor DPRD, melanjutkan aksi unjuk rasa di sana. Kedatangan massa aksi disambut positif oleh Pimpinan DPRD Merauke dan anggota lainnya.

Massa simpatisan Bupati Merauke ini mengecam keras upaya yang dilakukan Notaris Aloysius Dumatubun yang telah mempersoalkan ijazah dan gelar Bupati Romanus Mbaraka, dan mengancam akan mengusir Notaris Aloysius Dumatubun dari Kabupaten Merauke, jika terus- menerus mengganggu dan merongrong kewibawaan Pemerintahan Bupati Romanus Mbaraka. Ancaman pengusiran itu secara tegas disampaikan Antonius Kaize selaku wakil koordinator aksi dalam orasinya di depan kantor DPRD Merauke.

“Kepada saudara-saudaraku Keluarga Besar Suku Kepulauan Kei, dari lubuk hati yang dalam kami tidak marah kamu orang. Kami dengar cerita, kami tahu itu bahwa kamu punya leluhur yang datang dari pulau-pulau Kei membawa Kitab Suci Injil. Bergerak dari kampung ke kampung mengarungi ombak, laut dan rawa mengajar kami punya orangtua dan hari ini kami juga sudah sekolah dan sama seperti kamu. Abangku terkasih Aloysius Dumatubun, Tetemu adalah distrik pertama di Pulau Kimaam. Jangan khianati upaya-upaya membangun cinta kasih di atas tanah ini.

“Hargai pemilik negeri ini, karena hari ini kita semua sedang susah, kita semua sedang hidup dalam suasana yang aman dan damai. Tidak ada satu orangpun yang memilih untuk hidup susah. Tapi kalau saudara susah kami pun punya harga diri, yang jaminannya adalah nyawa. Tolong hargai kami pemilik negeri ini dan kami pun telah menghargai kalian. Jangan bikin kami marah kepada kamu.

“Tadi kita sudah datang ke rumahnya, kita bawa dayung. Kalau saudara tidak mampu untuk meneruskan upaya-upaya kedamaian yang sudah dibangun oleh leluhurmu di tanah ini, silahkan naik perahu pulang ke kampung halamanmu! Hari ini kita kasih kau peringatan bahwa di tanah ini ada manusia yang diciptakan hargai itu. Stop! Provokasi kepada kami anak-anak Papua,” tegas Antonius Kaize dalam orasinya.

Koordinator aksi unjuk rasa damai, Moses Kaibu yang juga anggota DPRD Merauke mengecam dan mengutuk keras segala bentuk dan tindakan para oknum yang mengganggu stabilitas keamanan dan segala upaya merongrong pemerintahan Bupati Romanus Mbaraka.

“Hari ini saya datang bukan dalam kapasitas sebagai anggota dewan, tetapi sebagai salah satu putera Kimaam. Kami datang dengan satu tujuan bahwa kebersamaan di Merauke ini milik kita. Bagi semua saudara yang menjadi anak perintis, kamu harus selalu dan wajib menaungi kami. Bukan jadi musuh kami. Tanpa kalian, kami tak mungkin ada. Tanpa kami, kalian tak mungkin ada. Dengan segala kerendahan hati dan keterpaksaan kami datang melakukan demo pada hari ini,” ujar Moses Kaibu.

Menanggapi hal itu, Ketua DPRD Merauke, Ir. Benyamin Latumahina memberikan wejangan dan peneguhan kepada massa pendukung Bupati Romanus Mbaraka bahwa segala persoalan yang terjadi di Kabupaten Merauke merupakan bentuk ujian kepada seorang pemimpin sejati. “Saudara-saudara sekalian, kita musti yakin dan percaya ketika seorang pemimpin itu dia bisa melewati cobaan, bisa melewati tantangan, itu bisa dipakai Tuhan. Saya yakin dan percaya Bapak Romanus profesional. Dia akan melewati tantangan dan cobaan ini. Dia akan berdiri tegak dan menjalankan roda pemerintahan dengan baik,” kata Beny Latumahina.

Menurutnya, penyelenggara pemerintahan daerah terdiri dari DPR dan Bupati. Otomatis DPRD akan mendukung pemerintahan secara konstitusional dan sah menurut hukum. Sehingga segala sesuatu program yang disampaikan oleh Bupati Romanus Mbaraka pasti akan didukung penuh oleh DPRD Kabupaten Merauke.

Hal senada dengan itu juga disampaikan Wakil Ketua II DPRD Merauke, Dominikus Ulukyanan bahwa DPRD Kabupaten Merauke akan selalu mendukung penuh roda pemerintahan di bawah kepemimpinan Romanus Mbaraka. Menurutnya, perihal ijazah dan gelar Romanus Mbaraka sebenarnya tidak ada permasalahan.

“Kali lalu saya pernah bilang bahwa saya ini saksi hidup yang urus dia punya ijazah. Jadi, adik-adik tolong sampaikan bahwa Romanus tidak bisa digoyangkan dari Bupati Merauke hanya masalah ini. Kemarin, bapak-bapak polisi sudah keluarkan SP3 bahwa tidak ada bukti yang cukup terkait masalah ijazah yang dipersoalkan. Jadi yang kemarin di DKPP itu hanya untuk KPU dan Bawaslu. Kalau mau dikatakan, rakyat tidak perlu ijazah. Rakyat butuh siapa yang urus dia. Sementara orang sudah menyaksikan di periode sebelumnya, Romanus bisa urus dari kampung ke kampung. Itu yang penting bagi rakyat dan ijazah itu masalah surat formalitas. Jadi untuk hal ini sebenarnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan,” tandas Dominikus Ulukyanan.

Hal lain juga disampaikan oleh salah satu anggota DPRD Merauke, Fransiskus X Sirfefa yang juga merupakan peserta aksi. Di hadapan dewan, Sirfefa mengatakan, masalah ijazah dan gelar Bupati Merauke sebenarnya sudah selesai dan tidak perlu dipermasalahkan lagi.

“Saya ingin mengambil sebuah kesimpulan bahwa persoalan yang selama ini membuat kita pusing, baik masyarakat maupun saudara-saudara pendukung ataupun kemarin yang menyampaikan orasi di sini. Sebagai warga negara yang baik kita harus mentaati proses hukum yang sudah dijalani. Kita perlu menyampaikan kepada saudara-saudara kita yang lain bahwa sudah tidak ada lagi persoalan. Mari kita hidup rukun dan damai di tanah kita tercinta ini,” ajak Sirfefa. (hrs)