Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Penyebab Kematian Pastor Bert Mantan Ketua Yapeda Mimika, Diungkap Provincial OFM Papua, Almarhum Dinyatakan

Pater Bert
Pater BertFoto / MIMIKA
fajar Papua3 menit baca0 kali dibaca

Timika, fajarpapua.com - Kabar duka menyelimuti umat katolik dan warga Mimika pada umumnya. Mantan Ketua Yapeda, Pastor Bert Hagendoorn OFM yang belasan tahun mengabdikan hidupnya bagi para penderita HIV/AIDS Mimika, meninggal dunia.

Rekan almarhum yang juga Provinsial OFM Papua, Pater Gabriel Ngga OFM ketika dikonfirmasi Fajar Papua, Kamis (3/11) pagi mengatakan, Pater Bert meninggal dunia Rabu (2/12) pukul 17.00 waktu Belanda.

"Almarhum terpapar covid. Sudah satu bulan di rumah sakit," ungkap Pater Gaby perihal penyebab kepergian almarhum.

Kabar kematian Pater Bert sontak menyebar luas di laman media sosial Kabupaten Mimika. Ucapan dukacita memenuhi beranda facebook.dan whatsapp. Baik orang tua, kaum muda, pejabat maupun rakyat biasa, menyatakan duka atas kepergian pastor yang sangat dekat dengan semua kalangan di Mimika itu.

Almarhum lahir di Den Haag Belanda 22 Juli 1942. Kewarganegaraan Belanda. Namun menjadi WNI sejak 16 Oktober 1984. Masuk ke OFM, Weert, pada 7 September 1962.

Profesi Pertama: Venray, 8 September 1963. Profesi Meriah: Alverna, 8 September 1966

Studi Filsafat: Venray, 1963-1965. Studi Teologi : Utrecht 1965- 1968. Teologi Pastoral : Amsterdam. 1968-1969.

Pentahbisan imam, Amsterdam, 13 Juli 1969. Studi/kerja : Sep 1969 - Juli 1970.

Studi Antropologi Budaya di Utrecht.
Pastor Kapelan di Paroki St. Yosef Gouda Utara. Misi ke Irian (Papua): 27 Oktober 1970 dan pada 22 Juni 1971.

Terlahir dari ayah, Yohannes Augustinus Fransiskus Hagendoorn
Ibu : Arnolda Boomgaard.

Tiba di Indonesia 15-1- 1971. Studi Bahasa Indonesia di Yogya dari Februari- Mei 1971.

Tiba di Irian, 22 juni 1971. Masa Pensiun dijalaninya di Timika pada 1996 dengan Kegiatan Swasta - menjalankan YAPUKEPA hingga berakhirnya masa tugas di Papua dan kembali ke Belanda, 14 Mei 2019.

Dalam laman berbahasa Belanda sebagaimana yang dikutib Fajar Papua menggambarkan sedikit tentang sosok almarhum.

Pastor Bert Hagendoorn adalah Fransiskan. Dia sudah berusia 78 tahun, dan bekerja sebagai misionaris di Papua Indonesia kurang lebih empat puluh tahun.

Selama tahun-tahun itu dia bekerja sebagai pastor di berbagai tempat di Papua.

Ia juga seorang pendidik pemula selama beberapa tahun, ditugaskan untuk melatih para Fransiskan lokal.

Setelah beberapa waktu menjadi pastor paroki, dia menjadi ketua pengurus rumah sakit di Timika. Di pegunungan dekat Timika adalah salah satu tambang tembaga terbesar di dunia.

Hal ini menarik banyak orang dari dalam dan luar negeri, menjadikan Timika, kota kecil dengan segudang permasalahan seperti kota besar di Asia.

Pater Bert ikut menggagas lahirnya Yayasan Caritas Timika (YCT).

Pada awal berdirinya di tahun 1998 operasional, YCT dipimpin Pater Bert yang bertanggung jawab selaku Ketua Badan Pengurus yang aktif menangani langsung YCT.

Namun mulai 2005, dia fokus pada perjuangan melawan AIDS selama belasan tahun terakhir. Karier dimulai dengan informasi dan pelatihan bagi warga. Bukan tugas yang mudah di negara yang tingkat pendidikan dan pembangunannya masih rendah itu.

Untuk melakukan pekerjaannya, dia membangun pusat pelatihan dan pendidikan namanya Yapeda.

Namun, tahun 2019 lalu dia kembali ke Belanda. Tidak ada kabar setelahnya. Barulah pada Rabu kemarin, pastor Bert menghembuskan nafas terakhir.

Selamat jalan pejuang kemanusiaan, sampaikan salam rindu kami untuk Bapa Uskup tercinta, Mgr Philips Saklil Pr dan rekan-rekan imam yang sudah ada di surga. (ana)