Jika Air Bersih Dipaksa Masuk, Pemda Mimika Rugi Rp 1,5 Miliar Perbulan, Kok Bisa?
Timika, fajarpapua.com
Investasi pengadaan air baku untuk kebutuhan masyarakat Mimika baik untuk minum, mandi dan cuci yang sejak beberapa tahun lalu sudah dibangun Pemkab Mimika membutuhkan total dana Rp 250-300 miliar.
Sementara dana yang baru dikucurkan dalam APBD beberapa tahun ini sebesar Rp 70 miliar. Jika air tetap dipaksakan masuk, Pemda Mimika siap mengalami kerugian sebesar Rp 1,5 miliar perbulan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Mimika, Robert Mayaut, ST MT kepada awak media di Grand Mozza mengatakan DPU masih membutuhkan dana tambahan untuk menyelesaikan pekerjaan lanjutan jaringan dalam kota dan sambungan rumah (SR) penduduk dalam kota. Sementara SR yang sudah ada baru 1.500 sambungan.
"DPU bisa saja menjalankan air dari pusat penampungan air di Chek Poin Kuala Kencana ke kota. DPU memiliki satu genset dengan kapasitas besar untuk mendorong air masuk ke pusat penampungan SP 2," ungkap Robert.
Namun, kata dia, operasional genset jika dihitung satu bulan menghabiskan anggaran Rp 1,5 miliar. Sedangkan penampungan SP2 ada satu alat terpasang dengan biaya operasional sebulan Rp 200 juta. Sehingga DPU membutuhkan dana untuk operasional dua alat tersebut Rp 1,7 miliar tiap bulan,
"Belum lagi hitung kaporit dan kebutuhan untuk air bersih agar bebas kuman dan lain-lain. Jadi jika dengan sambungan rumah saat ini yang sudah dikerjakan oleh pihak ketiga sebesar 1.500 SR apakah bisa menutupi operasional setiap bulan?. Tentu tidak karena hitungan kami jika setiap SR membayar meteran air dengan Rp 200 ribu saja baru mencapai Rp 300 juta, lalu siapa yang menutupi kekurangan yang mencapai Rp 1,5 miliar perbulan?" ungkapnya.
Menyikapi keadaan demikian Robert mengaku kurang sepakat jika diberlakukan subsidi. Pemda harus me ambah 17.000 SR lagi.
"Usulan DPU kalau disetujui sampai 50.000 SR sehingga dapat menutupi biaya operasional setiap bulan," pungkasnya.
Robert mengakui pekerjaan saluran air minum dalam beberapa tahun belakangan ini terhenti karena digadang-gadang investor hendak masuk menangani air bersih. Tapi sejak 2019 lalu mulai redup, kemungkinan investor mundur akibat pertimbangan biaya opersional yang besa.
"Mereka timbang-timbang untuk menginvestasikan usahanya dibidang air baku bersih ini.
Untuk tahun 2021, kami akan usulkan lagi untuk melanjutkan pekerjaan ini sehingga sambungan rumah bisa bertambah," ujarnya.
"Yang kita kejar 17.000 sampai 50.000 SR dan mudah-mudahan bisa capai dan teratasi sementara kebutuhan akan biaya-biayanya,” jelas Robert.
Soal kapasitas air, ia menjelaskan di pusat penampungan Chek Point Kuala Kencana terdapat mesin khusus berkapasitas besar untuk mendorong air masuk ke penampungan SP 2.
Kemudian dari SP 2 dibagi lagi ke dalam kota dan beberapa wilayah SP yang mudah dijangkau seperti SP 1, SP 2, SP 3, dan SP 4.(mar)

