Timika, fajarpapua.com – Bupati Mimika Johannes Rettob mengajak seluruh masyarakat memperkuat kerukunan dan menjaga toleransi antarumat beragama menjelang pelaksanaan Konferensi Nasional Kota Toleran ke-2 yang dijadwalkan berlangsung di Kabupaten Mimika pada 16 November 2026.
Ajakan tersebut disampaikan Bupati Rettob saat menghadiri kegiatan Tabligh Akbar di Gedung Eme Neme Yauware, Timika, Kamis (15/10/2026). Ia menegaskan, Mimika merupakan rumah bersama bagi masyarakat dari berbagai suku, agama, budaya, dan daerah asal.
“Mimika rumah kita. Artinya, Mimika adalah tempat kita semua datang dan tinggal. Karena itu, kita harus bersama-sama menjaga dan membangun rumah kita ini,” ujarnya.
Menurut dia, keberagaman merupakan identitas sekaligus kekuatan yang harus dirawat melalui sikap saling menghormati dan semangat kebersamaan. Tanpa kekompakan, perbedaan berpotensi menimbulkan perpecahan. Sebaliknya, jika dikelola dengan baik, keberagaman dapat menjadi modal sosial untuk mendorong kemajuan daerah.
Ia menyebut Mimika telah mendapat pengakuan sebagai kabupaten toleran pada 2025. Capaian tersebut menjadi motivasi bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus memperkuat kehidupan yang harmonis di tengah perbedaan.
Komitmen itu akan kembali diperkuat melalui persiapan Mimika sebagai tuan rumah Konferensi Nasional Kota Toleran ke-2. Pemerintah daerah kini melakukan berbagai persiapan untuk menyukseskan agenda nasional tersebut.
Rettob berharap konferensi itu menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah, tokoh agama, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga kerukunan.
Ia menegaskan, tanggung jawab merawat toleransi bukan hanya berada di tangan pemerintah atau tokoh agama, tetapi juga seluruh masyarakat. Hal itu dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana, seperti menghargai keyakinan orang lain, menjaga komunikasi, serta menghindari sikap yang berpotensi memicu konflik.
Pesan serupa disampaikan Habib Husein Ja’far yang hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menilai keberagaman masyarakat Mimika merupakan potensi besar untuk mendukung kemajuan daerah apabila dijaga bersama.
Menurutnya, intoleransi dapat berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan, mulai dari keamanan dan hubungan sosial hingga perekonomian. Karena itu, pembangunan toleransi perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan pemerintah, ulama, tokoh lintas agama, masyarakat sipil, dan media.
“Keragaman itu kalau tidak dijaga justru bisa menjadi bencana bagi kita. Tetapi kalau dijaga dengan baik, keragaman justru menjadi potensi untuk memajukan kabupaten ini,” ujarnya.
Habib Husein juga mendorong agar pengalaman positif masyarakat Mimika dalam hidup berdampingan di tengah perbedaan diperkenalkan lebih luas melalui media digital. Kisah kerukunan tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat di daerah lain.
Persiapan menuju Konferensi Nasional Kota Toleran ke-2 menjadi kesempatan bagi Mimika untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga keharmonisan. Upaya tersebut diharapkan tidak berhenti pada penyelenggaraan kegiatan, tetapi juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui semangat “Mimika Rumah Kita”, seluruh elemen masyarakat diharapkan terus menjaga persatuan dan menjadikan keberagaman sebagai fondasi untuk membangun Kabupaten Mimika yang aman, harmonis, dan sejahtera.










