Lewati ke konten utama

Sambut KKT II 2026, FKUB Mimika Ajak Masyarakat Rawat Toleransi dan Kerukunan

Redaksi Fajar PapuaPenulis
20.52 WIT4 menit baca49 dibaca
Ketua FKUB Kabupaten Mimika, Dr. Jeffery C. Hutagalung, M.Phil.,
Ketua FKUB Kabupaten Mimika, Dr. Jeffery C. Hutagalung, M.Phil.,Foto / Mimika
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com – Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Mimika, Dr. Jeffery C. Hutagalung, M.Phil., mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus menjaga toleransi, kerukunan, dan harmoni antarumat beragama menjelang pelaksanaan Konferensi Kota Toleran (KKT) II yang dijadwalkan berlangsung pada 14–17 November 2026 di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Jeffery mengatakan, kerukunan antarumat beragama di Mimika merupakan warisan para leluhur dan pendiri daerah yang harus terus dijaga serta diteruskan oleh generasi saat ini.

Menurutnya, semangat kebersamaan tersebut sejalan dengan tema Semangat Bersama Mimika Rumah Kita dan slogan Eme Neme Yauware, yang mengajak seluruh masyarakat bekerja bersama membangun Mimika sebagai rumah bersama meskipun berasal dari latar belakang agama dan budaya yang berbeda.

“Kami memohon dukungan sepenuhnya dari semua lapisan masyarakat beragama di Kabupaten Mimika untuk tetap menjaga toleransi, kerukunan, dan harmoni. Mimika adalah rumah kita bersama, sehingga menjadi tanggung jawab kita semua untuk merawatnya,” katanya di Fantastic Sport Complex Minisoccer, Jalan Cenderawasih SP 2 Timika, Rabu (14/10).

Ia menjelaskan, praktik toleransi di Mimika telah berlangsung sejak sebelum pemerintahan terbentuk. Para leluhur telah meletakkan dasar kebersamaan melalui kesepakatan untuk saling menghormati, menjaga, dan membina kehidupan umat beragama, termasuk dalam menjalankan ibadah di rumah ibadah masing-masing.

Salah satu bentuk nyata toleransi tersebut terlihat saat perayaan hari besar keagamaan. Pemuda lintas agama turut membantu menjaga rumah ibadah ketika umat agama lain melaksanakan perayaan keagamaan.

“Misalnya, saat Idulfitri, pemuda Katolik, Kristen, Hindu, dan Buddha ikut menjaga rumah-rumah ibadah. Demikian pula sebaliknya. Semangat ini terus terpelihara dari waktu ke waktu hingga sekarang,” ungkapnya.

Jeffery menegaskan, FKUB tidak bermaksud membangun semangat baru, melainkan menjaga dan meneruskan nilai-nilai toleransi yang telah diwariskan para leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan masyarakat Mimika.

Ia juga menilai pertumbuhan penduduk dan berkembangnya rumah ibadah dari berbagai agama di Kota Timika merupakan bagian dari dinamika kehidupan masyarakat yang perlu diiringi dengan sikap saling menghormati.

Menurutnya, kehidupan umat beragama di Mimika selama ini memberikan ruang bagi setiap kelompok untuk menjalankan keyakinannya. Meski sesekali muncul persoalan, ia bersyukur berbagai kejadian tersebut dapat ditangani dengan baik.

“Di Kota Timika, tidak ada satu agama yang mendominasi agama lainnya. Kita memiliki hak yang sama. Pemerintah daerah dan tokoh-tokoh masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan kehidupan bersama berjalan dengan baik,” ujarnya.

Dalam rangka menyambut KKT II 2026, FKUB Mimika telah memulai berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat, termasuk generasi muda, melalui olahraga, seni, dan budaya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Turnamen Minisoccer Kerukunan pada 12 Oktober 2026 di Fantastic Sport Complex Minisoccer, Jalan Cenderawasih SP 2 Timika. Selanjutnya, FKUB menjadwalkan Konser Musik Kerukunan pada 16 Oktober 2026 di Gedung Tongkonan sebagai ruang kebersamaan bagi generasi muda melalui seni dan budaya.

Jeffery mengatakan, upaya merawat kerukunan tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab pemuka agama dan tokoh masyarakat. Seluruh elemen masyarakat, terutama kaum muda, perlu dilibatkan agar nilai toleransi semakin kuat dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan olahraga, seni, dan budaya, FKUB ingin mempertemukan generasi muda dari berbagai latar belakang untuk membangun persaudaraan dan memperkuat rasa memiliki terhadap Mimika.

Puncak rangkaian kegiatan KKT II dijadwalkan berlangsung pada 16 November 2026, di tengah agenda konferensi yang berlangsung pada 14–17 November 2026.

Jeffery menyebut penyelenggaraan KKT II di Mimika sebagai bentuk kepercayaan yang perlu dijawab dengan keterlibatan dan dukungan seluruh masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa kerukunan dan perdamaian tidak hadir dengan sendirinya, melainkan harus dibangun melalui komitmen, sikap saling menghormati, serta kerja sama yang berkelanjutan.

Karena itu, ia berharap seluruh tokoh agama, rohaniawan, tokoh masyarakat, pemerintah, dan umat beragama di Mimika dapat terus bersinergi menjaga suasana yang aman, damai, dan harmonis.

Menurutnya, tidak ada kehidupan masyarakat yang sepenuhnya terbebas dari persoalan. Namun, setiap perbedaan dan persoalan harus disikapi dengan bijaksana agar tidak merusak hubungan persaudaraan yang telah terbangun.

“Kesempurnaan hanya milik Tuhan. Karena itu, sekali lagi kami memohon dukungan semua pihak untuk menjaga dan merawat kerukunan umat beragama agar semakin toleran, rukun, dan harmonis, terlebih dengan adanya KKT di Kota Timika,” tuturnya.

Ia pun mengajak seluruh masyarakat menjadikan Mimika sebagai rumah bersama yang memberikan ruang bagi setiap orang untuk beraktivitas, berkarya, dan berkontribusi bagi kemajuan daerah.

“Mari kita sama-sama menjaga negeri ini agar kita dapat beraktivitas dan berkarya untuk kebaikan bersama. Perdamaian harus diciptakan, bukan lahir begitu saja. Karena itu, perdamaian harus terus kita jaga,” pungkasnya.(ron)