Penulis: Ryeno Guritno (Wartawan www.fajarpapua.com)
PAGI itu di Kapiraya, Distrik Mimika Barat, Kabupaten Mimika suasana terasa berbeda.
Di tengah rutinitas patroli yang biasanya identik dengan kewaspadaan dan ketegasan, hadir potret lain dari seorang aparat—lebih dekat, lebih hangat, dan penuh kepedulian.
Aiptu Syariful Alamsyah tidak hanya memimpin personel gabungan dalam patroli dialogis.
Ia juga memimpin dengan hati. Baginya, keamanan bukan semata soal menjaga wilayah tetap kondusif, tetapi juga memastikan masyarakat, terutama anak-anak, tetap bisa menjalani kehidupan mereka dengan rasa aman dan nyaman.
Di wilayah yang memiliki tantangan tersendiri seperti Kapiraya, kehadiran aparat sering kali dipandang dari satu sisi: penjaga stabilitas.
Namun pagi itu, makna tersebut meluas. Saat kendaraan roda tiga mulai bergerak menyusuri jalanan kampung, yang diangkut bukan hanya anak-anak sekolah, tetapi juga harapan orang tua yang ingin melihat anak mereka tetap belajar tanpa rasa takut.
“Kalau mereka tidak sekolah, masa depan mereka bisa terhenti. Itu yang kami jaga,” ujarnta dengan nada sederhana, namun sarat makna.
Bagi anak-anak SDN Inpres Uta 2 Kapiraya, kehadiran aparat bukan lagi sesuatu yang membuat canggung.
Mereka justru tampak akrab. Tawa kecil pecah saat kendaraan melaju, diselingi cerita-cerita polos khas anak-anak.
Di mata mereka, aparat bukan sekadar penjaga keamanan, tetapi juga teman perjalanan menuju cita-cita.
Pendekatan humanis seperti ini tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari komunikasi, dari kepercayaan yang dibangun perlahan antara aparat dan masyarakat.
Kapolsek Mimika Barat, Ipda Muhammad Yani, menyebut kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan aktivitas pendidikan di tengah dinamika wilayah.
“Kami ingin masyarakat tahu bahwa kami ada bukan hanya saat ada masalah, tetapi juga dalam keseharian mereka,” ujarnya.
Yang menarik, pendekatan ini tidak berhenti pada antar-jemput siswa.
Saat jam istirahat tiba, suasana sekolah berubah menjadi ruang kebersamaan.
Terkadang terlihat seorang personel Brimob memetik gitar, mengalunkan lagu-lagu kebangsaan dan rohani.
Anak-anak pun ikut bernyanyi, beberapa bertepuk tangan, lainnya hanya tersenyum malu-malu.
Momen sederhana itu menyimpan pesan kuat: bahwa keamanan juga bisa dibangun melalui kedekatan emosional.
Bahwa rasa aman tidak selalu hadir dari senjata dan strategi, tetapi dari kehadiran yang tulus dan interaksi yang manusiawi.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi wilayah-wilayah seperti Mimika Barat, kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik seragam, ada manusia dengan empati.
Aparat yang tidak hanya bertugas menjaga, tetapi juga merangkul. Kapiraya mungkin hanya satu titik kecil di peta Papua Tengah.
Namun dari sana, lahir gambaran besar tentang bagaimana pendekatan humanis bisa menjadi kunci dalam membangun kepercayaan.
Dan di antara deru kendaraan roda tiga serta tawa anak-anak, tersimpan harapan bahwa masa depan mereka tetap berjalan—dikawal oleh mereka yang menjaga, sekaligus peduli. ***

