Timika, fajarpapua.com – Ribuan umat Katolik memadati Gereja Katedral Tiga Raja Timika, pada perayaan Jumat Agung, dalam suasana hening, khidmat, dan penuh penghayatan iman.
Momentum sakral ini menjadi kesempatan bagi umat untuk mengenang sengsara dan wafat Yesus Kristus di kayu salib.
Nuansa sedih begitu terasa di seluruh ruangan gereja. Liturgi dihiasi warna ungu sebagai simbol kedukaan mendalam atas wafat Sang Juruselamat.
Umat mengikuti setiap rangkaian ibadat dengan penuh kekhusyukan, mulai dari pembukaan hingga puncak penghormatan salib.
Perayaan dipimpin Pastor Benyamin Magai, Pr, yang mengajak umat merenungkan makna penderitaan Kristus melalui pembacaan Injil Yohanes tentang kisah sengsara Yesus.
Dalam homilinya, Pastor Benyamin mengatakan kisah sengsara bukan sekadar narasi duka, melainkan wujud kasih dan pengorbanan yang membawa keselamatan bagi umat manusia.
“Kita mungkin menangis dan berduka saat mendengar kisah sengsara Yesus. Namun di balik itu, terdapat makna besar—Ia rela mati demi kebenaran, mengubah cara pandang manusia, dan menunjukkan jalan keselamatan,” ujarnya.
Ia melanjutkan, sejak manusia jatuh dalam dosa, kehidupan tidak lagi berjalan dalam harmoni.
Konflik, kepentingan, dan perpecahan kerap mewarnai kehidupan, baik dalam lingkup pribadi, keluarga, maupun kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, kehadiran Yesus membawa perubahan besar, namun juga dianggap sebagai ancaman oleh para pemuka agama dan penguasa Romawi. Yesus pun disalib melalui proses pengadilan yang sarat ketidakadilan.
“Bagi mereka yang tidak percaya, Yesus dianggap pemberontak. Namun bagi kita yang beriman, salib justru menjadi lambang kemenangan dan kekuatan. Dari kematian-Nya lahir keselamatan bagi dunia,” ungkapnya.
Pastor Benyamin turut mengaitkan kisah sengsara Kristus dengan realitas kehidupan saat ini, termasuk situasi di Papua yang masih diwarnai berbagai persoalan dan konflik.
“Banyak darah tak berdosa tertumpah, korban terus berjatuhan, bahkan lingkungan hidup turut terdampak. Situasi ini mengajak kita bertanya: apakah kita semakin dekat dengan rekonsiliasi, atau justru semakin menjauh,” katanya.
Ia mengajak umat menjadikan momentum Paskah sebagai waktu pertobatan dan refleksi, serta mendorong setiap pribadi untuk menjadi pembawa damai di tengah kehidupan.
“Belajarlah dari Yesus, menjadi pribadi yang membawa damai—mendamaikan diri dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan,” pesannya.
Usai homili, ibadat dilanjutkan dengan doa umat dan prosesi penghormatan salib.
Dalam prosesi tersebut, umat maju secara bergantian untuk mencium atau menyentuh salib sambil berlutut sebagai ungkapan hormat dan cinta kepada Kristus yang tersalib.
Rangkaian ibadah ditutup dengan doa Bapa Kami, penerimaan komuni, serta doa penutup dan berkat.
Perayaan Jumat Agung di Katedral Tiga Raja tidak hanya menjadi ungkapan iman, tetapi juga seruan sunyi akan pentingnya perdamaian—bahwa di tengah luka dan duka, selalu ada harapan yang lahir dari salib. (moa)

