Timika fajarpapua.com – Pemerintah Kabupaten Mimika pada tahun ini secara terbuka melaporkan capaian program pembangunan kepada masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Bupati Mimika Johannes Rettob saat mempresentasikan laporan kerja satu tahun kepemimpinannya bersama Wakil Bupati Emanuel Kemong di Graha Eme Neme Yauware, Rabu (25/3).
Dalam pemaparannya, Bupati Rettob menegaskan tujuan utama pembangunan adalah mewujudkan masyarakat yang sejahtera melalui indikator yang terukur.
“Tujuan pembangunan adalah masyarakat sejahtera dengan indikator diantaranya indeks pembangunan manusia naik, pertumbuhan ekonomi tumbuh, PDRB meningkat, angka pengangguran turun, angka kemiskinan menurun, inflasi stabil, gini ratio meningkat, angka harapan hidup naik serta stunting menurun,” ujarnya.
Ia menjelaskan, untuk mencapai target tersebut, pemerintah daerah fokus pada pembangunan infrastruktur, kesehatan, pendidikan, serta perbaikan dan penataan birokrasi baik kelembagaan maupun kepegawaian, termasuk peningkatan pelayanan publik melalui Mal Pelayanan Publik (MPP), Mimika Center dan Mimika Smart City.
Bupati Rettob kemudian memaparkan secara lengkap kondisi dan capaian pembangunan daerah. Kabupaten Mimika memiliki luas wilayah 21.693,51 Km² dengan jumlah penduduk 318.679 jiwa, terdiri dari 167.756 laki-laki dan 150.923 perempuan, serta 92.100 kepala keluarga. Data Orang Asli Papua yang telah terinput mencapai sekitar 52 persen dengan target 60 persen.
Secara administratif, Mimika terdiri dari 18 distrik, 19 kelurahan dan 133 kampung, dengan batas wilayah utara meliputi Kabupaten Dogiyai, Deiyai, Paniai dan Puncak, selatan berbatasan dengan Laut Arafura, timur dengan Kabupaten Nduga dan Asmat, serta barat dengan Provinsi Papua Barat.
Di sektor pendidikan, pemerintah mencatat jumlah siswa tahun 2025 terdiri dari 5.770 siswa PAUD/TK, 36.404 siswa SD, 13.844 siswa SMP, 5.490 siswa SMA dan 2.093 siswa SMK. Jumlah sekolah juga mengalami peningkatan, termasuk penambahan sekolah rakyat dan sekolah unggulan. Rasio guru dan siswa untuk SD hingga SMA/SMK sudah sesuai standar nasional, namun distribusinya belum merata, sementara untuk PAUD/TK masih kekurangan tenaga guru.
Program unggulan pendidikan meliputi pengelolaan sekolah berpola asrama bagi 1.006 siswa OAP dari berbagai suku, pembangunan SMA Transformasi Nasional, sekolah rakyat, bimbingan belajar sekolah kedinasan bagi 50 siswa OAP, serta program magang ke Balai Pelatihan di Bogor dan Malang.
Pemerintah juga melaksanakan program makan siang bagi 4.817 siswa di wilayah pesisir dan pegunungan serta program makan bergizi gratis di 43 sekolah untuk sekitar 5.000 siswa. Selain itu, pendidikan gratis diberlakukan dari TK hingga SMA/SMK negeri, serta bantuan bagi sekolah swasta melalui BOS, BOPDA dan program khusus Amungme dan Kamoro.
Di sektor kesehatan, capaian Universal Health Coverage (UHC) terus meningkat dari 102,90 persen pada Januari hingga 104,97 persen pada April 2025. RSUD Mimika sebagai rumah sakit rujukan wilayah Mee Pago memiliki 17 layanan spesialis dan layanan unggulan seperti cuci darah, serta penanganan TBC, malaria dan HIV/AIDS.
Pendapatan RSUD juga mengalami peningkatan dari Rp27,54 miliar pada 2019 menjadi Rp77,02 miliar pada 2024. Pemerintah merencanakan peningkatan status RSUD dari kelas C menjadi kelas B, pengembangan pusat diagnostik serta penambahan ruang rawat inap.
Penanganan stunting dilakukan melalui intervensi lintas sektor dengan melibatkan 11 OPD, termasuk pemberian makanan tambahan, bantuan gizi bagi ibu hamil, penyediaan air bersih, bantuan sembako, hingga pendampingan keluarga. Hasilnya, angka stunting berhasil diturunkan sebesar 5 persen. Pada sektor sosial ekonomi, pemerintah fokus pada penanganan kemiskinan ekstrem melalui pembangunan infrastruktur dasar dan rumah layak huni. Tercatat 1.005 unit rumah dibangun pada 2020–2024, 207 unit pada 2025, dan direncanakan 460 unit pada 2026.

